Tari Tradisional Tak Hanya Gemulai
Bangkapos.com - Minggu, 10 Juni 2012 06:40 WIB

bangkapos.com/aldhi
Nurul Khasanah
Berita Terkait
Laporan Wartawan Bangka Pos, Al Adhi S
BANGKAPOS.COM, BELITUNG - Tren remaja dari luar sangat mempengaruhi kehidupan remaja di Belitung. Berbagai budaya banyak ditiru para remaja setempat, termasuk dalam berkreativitas seni. Banyak bermunculan dancers di Belitung seperti di kota-kota besar.
Namun perkembangan dan tren remaja ini tidak mempengaruhi Nurul Khasanah, siswi kelas X6 SMAN 1 Tanjungpandan. Disaat banyak remaja putri lainnya banyak belajar ngedance, Nurul tetap memilih tarian tradisional dengan pakaian budaya asli daerah.
Hal ini bisa dilihat dalam penampilan Nurul dan teman-temannya saat Pesta Pelajar Belitung 2012 yang diselenggarakan Harian Pagi Pos Belitung dan Komunitas Telingsong Budaya, Sabtu (9/6/2012). Nurul membawakan tarian Berehun, lengkap dengan pakaian daerahnya.
Menurut Nurul, tarian daerah atau tradisional ini tak melulu harus gemulai. Namun ada juga gerakan-gerakan yang harus dilakukan dengan full power. Hal ini yang membuat Nurul enggal meninggalkan tarian tradisional seperti remaja-remaja lainnya.
"Dari SMP sudah mulai nari, pertamanya ikut ekstra kulikuler di sekolah. Tertarik aja ikut tari, tari nggak cuma gemulai, tapi gerakannya ada yang keras," papar gadis kelahiran Tanjungpandan, 23 Januari 1997 ini kepada bangkapos.com, Sabtu (9/6/2012) usai tampil.
Putri kedua dari tiga bersaudara pasangan Suherman dan Andiani ini menjelaskan, tarian yang dibawakan menceritakan masyarakat yang bekerja bersama-sama (berehun-red). Para pria bekerja menebas atau memotong semak ilalang, sedangkan para perempuannya membersihkannya.
Hingga saat ini, Nurul masih berlatih tari di sanggar, terutama sebelum mengikuti even-even. Seiring sering tampil di depan penontong, kualitas mentalnya di atas panggung pun makin terasah. Sehingga Nurul tak lagi merasakan demam panggung.
"Sudah biasa ikut even, jadi nggak grogi lagi," kata gadis yang mempunyai cita-cita menjadi dokter ini.
Pada waktu pertama tampil, Nurul merasa deg-degan dan tidak percaya diri. Tapi setelah beberapa kali tampil, ia merasa sudah terbiasa. Percaya dirinya pun tinggi saat berada di atas panggung.
Pengalaman menarik pernah dirasakan Nurul selama tampil membawakan tarian tradisional. Saat itu, kain yang dipakainya hampir terlepas dan terjatuh. Namun pengalaman ini tak menyurutkan Nurul untuk mendalami tarian tradisional.
"Kainnya hampir melorot, untung nggak kesampaian. Waktu itu mau keluar panggung," kata Nurul.
BANGKAPOS.COM, BELITUNG - Tren remaja dari luar sangat mempengaruhi kehidupan remaja di Belitung. Berbagai budaya banyak ditiru para remaja setempat, termasuk dalam berkreativitas seni. Banyak bermunculan dancers di Belitung seperti di kota-kota besar.
Namun perkembangan dan tren remaja ini tidak mempengaruhi Nurul Khasanah, siswi kelas X6 SMAN 1 Tanjungpandan. Disaat banyak remaja putri lainnya banyak belajar ngedance, Nurul tetap memilih tarian tradisional dengan pakaian budaya asli daerah.
Hal ini bisa dilihat dalam penampilan Nurul dan teman-temannya saat Pesta Pelajar Belitung 2012 yang diselenggarakan Harian Pagi Pos Belitung dan Komunitas Telingsong Budaya, Sabtu (9/6/2012). Nurul membawakan tarian Berehun, lengkap dengan pakaian daerahnya.
Menurut Nurul, tarian daerah atau tradisional ini tak melulu harus gemulai. Namun ada juga gerakan-gerakan yang harus dilakukan dengan full power. Hal ini yang membuat Nurul enggal meninggalkan tarian tradisional seperti remaja-remaja lainnya.
"Dari SMP sudah mulai nari, pertamanya ikut ekstra kulikuler di sekolah. Tertarik aja ikut tari, tari nggak cuma gemulai, tapi gerakannya ada yang keras," papar gadis kelahiran Tanjungpandan, 23 Januari 1997 ini kepada bangkapos.com, Sabtu (9/6/2012) usai tampil.
Putri kedua dari tiga bersaudara pasangan Suherman dan Andiani ini menjelaskan, tarian yang dibawakan menceritakan masyarakat yang bekerja bersama-sama (berehun-red). Para pria bekerja menebas atau memotong semak ilalang, sedangkan para perempuannya membersihkannya.
Hingga saat ini, Nurul masih berlatih tari di sanggar, terutama sebelum mengikuti even-even. Seiring sering tampil di depan penontong, kualitas mentalnya di atas panggung pun makin terasah. Sehingga Nurul tak lagi merasakan demam panggung.
"Sudah biasa ikut even, jadi nggak grogi lagi," kata gadis yang mempunyai cita-cita menjadi dokter ini.
Pada waktu pertama tampil, Nurul merasa deg-degan dan tidak percaya diri. Tapi setelah beberapa kali tampil, ia merasa sudah terbiasa. Percaya dirinya pun tinggi saat berada di atas panggung.
Pengalaman menarik pernah dirasakan Nurul selama tampil membawakan tarian tradisional. Saat itu, kain yang dipakainya hampir terlepas dan terjatuh. Namun pengalaman ini tak menyurutkan Nurul untuk mendalami tarian tradisional.
"Kainnya hampir melorot, untung nggak kesampaian. Waktu itu mau keluar panggung," kata Nurul.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar